Memahami makna tersurat dan makna tersirat
Sebuah riwayat,
Sayyidina Umar ra. bertanya kepada Khudzaifah bin Yaman : “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Khudzaifah ?”
Khudzaifah menjawab: “Pagi ini aku menyukai fitnah, membenci kebenaran (haq), shalat tanpa berwudhu dan aku memiliki sesuatu di muka bumi, apa yang tidak dimiliki oleh Allah di langit.”
Mendengar jawaban itu maka Umar marah.
Ali karramallahu wajhah datang menemuinya dan berkata kepadanya : “Di wajahmu terlihat tanda kemarahan, wahai amirul mukminin.”
Kemudian Umar menceritakan kepada Ali tentang apa yang menyebabkannya marah kepada Khudzaifah.
Kemudian Ali berkata : “Sungguh benar Khudzaifah. Adapun kecintaan kepada fitnah berarti kecintaan kepada harta dan anak-anak, sebagaimana Allah berfirman dalam Al Quran
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah) (bagimu) (QS At Taghaabun (64):15).
Adapun dia membenci kebenaran (haq) berarti dia membenci kematian, karena kedatangan kematian adalah benar (haq).
Dan shalat tanpa berwudhu berarti shalawatnya atas Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Adapun yang dimilikinya di muka bumi yang tidak dimiliki oleh Allah di langit berarti dia memiliki istri dan seorang anak, sedangkan Allah tidak beristri dan beranak. Hal ini sebagaimana firman Allah “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan” (QS Al Ikhlash : 3).
Umar berkata : “Demi Allah, engkau telah membuatku puas dan lega.”
Wajar saja sayyidina Umar ra marah mendengar jawaban sayyidina Khudzaifah bin Yaman ra kalau dipahami dengan makna dzahir atau dipahami dari apa yang tersurat.
Sedangkan sayyidina Ali karramallahu wajhah mencoba menjelaskan jawaban tersebut dibalik yang tersurat atau makna tersirat
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 September 2014
Minggu, 07 September 2014
Hukum Suami Isteri Menonton Filem "Gituan" Menurut Islam
Assalamu’alaikum wr. wb.
Mohon maaf sebelumnya Kiai. Saya ingin menanyakan, apakah diperbolehkan kami (suami-istri) menonton film biru (porno) untuk menambah keintiman atau gairah hubungan suami-istri? .
Atau ada solusi lain terkait hal ini?.
Terimakasih atas penjelasannya, dan sekali lagi kami mohon maaf.
Wassalam. Imron dari Kalsel (nama disamarkan)).
Jawaban :
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa berhubungan badan dengan istri termasuk bagian dari memberi nafkah batin.
Bahkan berhubungan badan dengan istri dikategorikan sebagai jihad fi sabilillah dalam konteks tertentu. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw yang dikemukakan oleh Hujjah al-Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali:
: رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيُجَامِعُ أَهْلَهُ فَيُكْتَبُ لَهُ بِجِمَاعِهِ أَجْرُ وَلَدٍ ذَكَرٍ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَقُتِلَ --أبو حامد الغزالي، إحياء علوم الدين، بيروت-دار المعرفة، ج، 2، ص. 52
“Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa sesungguhnya seorang suami yang menggauli istrinya maka akan dicatat baginya pahala menggaulinya sebagaimana pahala anak laki-laki yang memerangi (musuh) di jalan Allah kemudian terbunuh.”
(lihat Abu Hamid al-Ghazali, Ihya` Ulum ad-Din, Bairut-Dar al-Ma’rifah, tt, juz, 2, h. 52)
Dari sini saja kita bisa mengetahui bahwa hubungan badan suami-istri memiliki pahala yang sangat besar seperti pahalanya anak laki-laki yang berjihad di jalan Allah.
Namun persoalannya tidak hanya sampai disini saja. Sebab, ternyata ada juga pasangan suami-istri yang dalam berhubungan badan terlebih dulu menonton film porno untuk menambah gairah dan keintimannya. Lantas bagaimana sebenarnya pandangan para fuqaha` dalam menanggapi kasus ini ?
.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa melihat film porno bagi pasangan suami-istri diperbolehkan. Pandangan ini dirujukkan kepada apa yang dikemukakan oleh Syihabuddin al-Qalyubi.
Beliau berpendapat bahwa haram melihat sesuatu dari anggota badan perempuan ajnabiyyah, meskipun itu sudah terpisah darinya, seperti kuku atau rambut kemaluannya. Keharaman melihat ini juga meliputi melihatnya dari balik kaca atau kain tenun yang tipis atau dalam air yang jernih. Namun jika melihat sosok yang terpantul dari dalam air atau cermin tidaklah diharamkan walaupun disertai dengan syahwat.
وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يَحْرُمُ رُؤْيَةُ شَيْءٍ مِنْ بَدَنِهَا ، وَإِنْ أُبِينَ كَظُفُرٍ وَشَعْرِ عَانَةٍ وَإِبْطٍ وَدَمِ حَجْمٍ وَفَصْدٍ لَا نَحْوُ بَوْلٍ كَلَبَنٍ ، وَالْعِبْرَةُ فِي الْمُبَانِ بِوَقْتِ الْإِبَانَةِ فَيَحْرُمُ مَا أُبِينَ مِنْ أَجْنَبِيَّةٍ ، وَإِنْ نَكَحَهَا وَلَا يَحْرُمُ مَا أُبِينَ مِنْ زَوْجَةٍ وَإِنْ أَبَانَهَا ، وَشَمِلَ النَّظَرُ مَا لَوْ كَانَ مِنْ وَرَاءِ زُجَاجٍ أَوْ مُهَلْهَلِ النَّسْجِ أَوْ فِي مَاءٍ صَافٍ ، وَخَرَجَ بِهِ رُؤْيَةُ الصُّورَةِ فِي الْمَاءِ أَوْ فِي الْمِرْآةِ فَلَا يَحْرُمُ وَلَوْ مَعَ شَهْوَةٍ. (شهاب الدين القليوبي، حاشية القليوبي، بيروت-دار الفكر، 1419هـ/1998م، ج, 3، ص. 209)
“Kesimpulannya, bahwa haram melihat sesuatu dari anggota badan perempuan ajnabiyyah meskipun dipisahkan, seperti kuku, rambut kemaluan, bulu ketiak, darah bekam, darah yang keluar dengan cara membelah pembulu darah vena (fashd), bukan semisalnya air kencingnya seperti air susu. Dan yang menjadi pegangan itu pada apa yang dipisahkan pada saat waktu pemisahan. Karenanya, haram apa yang terpisah dari perempuan ajnabiyyah meskipun sudah pernah dinikahi, dan tidak haram apa yang dipisahkan dari istrinya sekalipun suaminya memisahkannya. Melihat dalam konteks ini termasuk melihat sesuatu dari anggota badan perempuan ajnabiyyah dari balik kaca atau kain tenun yang tipis atau air yang jernih. Dan terkecualikan dari melihat aurat perempuan ajnabiyyah adalah melihat sosok yang terpantul dari dalam air atau cermin”. (Syihabuddin al-Qalyubi, Hasyiyah al-Qalyubi, Bairut-Dar al-Fikr, 1419 H/1998 M, juz, 3, h. 2019). Jadi, menurut kalangan yang memperbolehkan melihat film porno bagi pasangan suami-istri pada dasarnya mereka meng-ilhaq-kan dengan melihat sosok yang terpantul dari dalam air atau cermin. Dimana menurut Syihabuddin al-Qalyubi hal ini tidak diharamkan kendatipun menimbulkan syahwat. Namun pandangan ini tidak sertamerta bisa diterima begitu saja. Sebab ada pendapat lain yang menyatakan bahwa melihat sesuatu (al-manzhur ilaih) seperti mahram atau selainnya, selain istri, jika menimbulkan syahwat adalah haram. Bahkan keharaman ini menurut Ali asy-Syibramalisi mencakup juga keharaman melihat benda-benda mati (al-jamadat). أَمَّا النَّظَرُ بِشَهْوَةٍ فَحَرَامٌ قَطْعًا لِكُلِّ مَنْظُورٍ إلَيْهِ مِنْ مَحْرَمٍ وَغَيْرِهِ غَيْرِ زَوْجَتِهِ وَأَمَتِهِ شَرْحُ م ر قَالَ ع ش عُمُومُهُ يَشْمَلُ الْجَمَادَاتِ فَيَحْرُمُ النَّظَرُ إلَيْهَا بِشَهْوَةٍ --أنظر سليمان البجيرمي، التجريد لنفع العبيد، المكتبة الإسلامية-تركيا، ج، 3، ص. 326 “Adapun melihat sesuatu (al-manzhur ilaih) seperti mahram dan selainnya, selain istri dan budaknya, secara pasti adalah haram (Syarh Muhammad ar-Ramli). (Dalam hal ini) Ali asy-Syibramalisi menyatakan bahwa keumuman keharaman ini meliputi benda-benda mati. Karenanya, haram melihat benda-benda mati dengan disertai syahwat” (Lihat, Sulaiman al-Bujairimi, at-Tajrid li Naf’ al-‘Abid, al-Maktabah al-Islamiyyah-Turkey, tt, juz, 3, h. 326). Dengan mengacu kepada pandangan yang kedua, maka menonton film porno bagi suami-istri adalah haram. Sebab, melihat benda mati saja jika disertai dengan syahwat itu hukumnya haram, apalagi melihat film porno. Sebenarnya, masih banyak cara-cara lain yang diajarkan Islam untuk menambah gairah seksual pasangan suami-istri. Seperti melakukan cumbu-rayu dan ciuman sebelum melakukan hubungan badan, dan lain-lain. Karenanya, kami lebih cenderung kepada pendapat yang kedua. Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Dan bagi pasangan suami-istri yang mengalami masalah seksual maka sebaiknya bersikaplah saling terbuka. Bicarakan baik-baik dengan pasangan. Dan kalau memang perlu berkonsultasilah kepada ahlinya. (Mahbub Ma’afi Ramdlan) *Sampaikan pertayaan Anda mengenai ibadah, muamalat (aktifitas dan transaksi sosial sehari-hari), serta munakahat (perikahan dan seluk-beluknya)
Mohon maaf sebelumnya Kiai. Saya ingin menanyakan, apakah diperbolehkan kami (suami-istri) menonton film biru (porno) untuk menambah keintiman atau gairah hubungan suami-istri? .
Atau ada solusi lain terkait hal ini?.
Terimakasih atas penjelasannya, dan sekali lagi kami mohon maaf.
Wassalam. Imron dari Kalsel (nama disamarkan)).
Jawaban :
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa berhubungan badan dengan istri termasuk bagian dari memberi nafkah batin.
Bahkan berhubungan badan dengan istri dikategorikan sebagai jihad fi sabilillah dalam konteks tertentu. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw yang dikemukakan oleh Hujjah al-Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali:
: رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيُجَامِعُ أَهْلَهُ فَيُكْتَبُ لَهُ بِجِمَاعِهِ أَجْرُ وَلَدٍ ذَكَرٍ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَقُتِلَ --أبو حامد الغزالي، إحياء علوم الدين، بيروت-دار المعرفة، ج، 2، ص. 52
“Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa sesungguhnya seorang suami yang menggauli istrinya maka akan dicatat baginya pahala menggaulinya sebagaimana pahala anak laki-laki yang memerangi (musuh) di jalan Allah kemudian terbunuh.”
(lihat Abu Hamid al-Ghazali, Ihya` Ulum ad-Din, Bairut-Dar al-Ma’rifah, tt, juz, 2, h. 52)
Dari sini saja kita bisa mengetahui bahwa hubungan badan suami-istri memiliki pahala yang sangat besar seperti pahalanya anak laki-laki yang berjihad di jalan Allah.
Namun persoalannya tidak hanya sampai disini saja. Sebab, ternyata ada juga pasangan suami-istri yang dalam berhubungan badan terlebih dulu menonton film porno untuk menambah gairah dan keintimannya. Lantas bagaimana sebenarnya pandangan para fuqaha` dalam menanggapi kasus ini ?
.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa melihat film porno bagi pasangan suami-istri diperbolehkan. Pandangan ini dirujukkan kepada apa yang dikemukakan oleh Syihabuddin al-Qalyubi.
Beliau berpendapat bahwa haram melihat sesuatu dari anggota badan perempuan ajnabiyyah, meskipun itu sudah terpisah darinya, seperti kuku atau rambut kemaluannya. Keharaman melihat ini juga meliputi melihatnya dari balik kaca atau kain tenun yang tipis atau dalam air yang jernih. Namun jika melihat sosok yang terpantul dari dalam air atau cermin tidaklah diharamkan walaupun disertai dengan syahwat.
وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يَحْرُمُ رُؤْيَةُ شَيْءٍ مِنْ بَدَنِهَا ، وَإِنْ أُبِينَ كَظُفُرٍ وَشَعْرِ عَانَةٍ وَإِبْطٍ وَدَمِ حَجْمٍ وَفَصْدٍ لَا نَحْوُ بَوْلٍ كَلَبَنٍ ، وَالْعِبْرَةُ فِي الْمُبَانِ بِوَقْتِ الْإِبَانَةِ فَيَحْرُمُ مَا أُبِينَ مِنْ أَجْنَبِيَّةٍ ، وَإِنْ نَكَحَهَا وَلَا يَحْرُمُ مَا أُبِينَ مِنْ زَوْجَةٍ وَإِنْ أَبَانَهَا ، وَشَمِلَ النَّظَرُ مَا لَوْ كَانَ مِنْ وَرَاءِ زُجَاجٍ أَوْ مُهَلْهَلِ النَّسْجِ أَوْ فِي مَاءٍ صَافٍ ، وَخَرَجَ بِهِ رُؤْيَةُ الصُّورَةِ فِي الْمَاءِ أَوْ فِي الْمِرْآةِ فَلَا يَحْرُمُ وَلَوْ مَعَ شَهْوَةٍ. (شهاب الدين القليوبي، حاشية القليوبي، بيروت-دار الفكر، 1419هـ/1998م، ج, 3، ص. 209)
“Kesimpulannya, bahwa haram melihat sesuatu dari anggota badan perempuan ajnabiyyah meskipun dipisahkan, seperti kuku, rambut kemaluan, bulu ketiak, darah bekam, darah yang keluar dengan cara membelah pembulu darah vena (fashd), bukan semisalnya air kencingnya seperti air susu. Dan yang menjadi pegangan itu pada apa yang dipisahkan pada saat waktu pemisahan. Karenanya, haram apa yang terpisah dari perempuan ajnabiyyah meskipun sudah pernah dinikahi, dan tidak haram apa yang dipisahkan dari istrinya sekalipun suaminya memisahkannya. Melihat dalam konteks ini termasuk melihat sesuatu dari anggota badan perempuan ajnabiyyah dari balik kaca atau kain tenun yang tipis atau air yang jernih. Dan terkecualikan dari melihat aurat perempuan ajnabiyyah adalah melihat sosok yang terpantul dari dalam air atau cermin”. (Syihabuddin al-Qalyubi, Hasyiyah al-Qalyubi, Bairut-Dar al-Fikr, 1419 H/1998 M, juz, 3, h. 2019). Jadi, menurut kalangan yang memperbolehkan melihat film porno bagi pasangan suami-istri pada dasarnya mereka meng-ilhaq-kan dengan melihat sosok yang terpantul dari dalam air atau cermin. Dimana menurut Syihabuddin al-Qalyubi hal ini tidak diharamkan kendatipun menimbulkan syahwat. Namun pandangan ini tidak sertamerta bisa diterima begitu saja. Sebab ada pendapat lain yang menyatakan bahwa melihat sesuatu (al-manzhur ilaih) seperti mahram atau selainnya, selain istri, jika menimbulkan syahwat adalah haram. Bahkan keharaman ini menurut Ali asy-Syibramalisi mencakup juga keharaman melihat benda-benda mati (al-jamadat). أَمَّا النَّظَرُ بِشَهْوَةٍ فَحَرَامٌ قَطْعًا لِكُلِّ مَنْظُورٍ إلَيْهِ مِنْ مَحْرَمٍ وَغَيْرِهِ غَيْرِ زَوْجَتِهِ وَأَمَتِهِ شَرْحُ م ر قَالَ ع ش عُمُومُهُ يَشْمَلُ الْجَمَادَاتِ فَيَحْرُمُ النَّظَرُ إلَيْهَا بِشَهْوَةٍ --أنظر سليمان البجيرمي، التجريد لنفع العبيد، المكتبة الإسلامية-تركيا، ج، 3، ص. 326 “Adapun melihat sesuatu (al-manzhur ilaih) seperti mahram dan selainnya, selain istri dan budaknya, secara pasti adalah haram (Syarh Muhammad ar-Ramli). (Dalam hal ini) Ali asy-Syibramalisi menyatakan bahwa keumuman keharaman ini meliputi benda-benda mati. Karenanya, haram melihat benda-benda mati dengan disertai syahwat” (Lihat, Sulaiman al-Bujairimi, at-Tajrid li Naf’ al-‘Abid, al-Maktabah al-Islamiyyah-Turkey, tt, juz, 3, h. 326). Dengan mengacu kepada pandangan yang kedua, maka menonton film porno bagi suami-istri adalah haram. Sebab, melihat benda mati saja jika disertai dengan syahwat itu hukumnya haram, apalagi melihat film porno. Sebenarnya, masih banyak cara-cara lain yang diajarkan Islam untuk menambah gairah seksual pasangan suami-istri. Seperti melakukan cumbu-rayu dan ciuman sebelum melakukan hubungan badan, dan lain-lain. Karenanya, kami lebih cenderung kepada pendapat yang kedua. Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Dan bagi pasangan suami-istri yang mengalami masalah seksual maka sebaiknya bersikaplah saling terbuka. Bicarakan baik-baik dengan pasangan. Dan kalau memang perlu berkonsultasilah kepada ahlinya. (Mahbub Ma’afi Ramdlan) *Sampaikan pertayaan Anda mengenai ibadah, muamalat (aktifitas dan transaksi sosial sehari-hari), serta munakahat (perikahan dan seluk-beluknya)
Rabu, 13 Agustus 2014
Amalan Dzikir Pagi Dan Sore Hari Dari Ustadz Yusuf Mansur, Silahkan Diamalkan
DZIKIR SEBAGAI KEKAYAAN KITA dari Ust. Yusuf Mansur
Saat tiba pagi dan sore hari, yuk baca:
A. 100 shalawat

ALLAHUMMA SHALI ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMAD
WA ‘ALAA AALI SAYYIDINA SAYYIDINA MUHAMMAD
Artinya : "Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada penghulu kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga penghulu kami Nabi Muhammad"
B. 100 Tasbih

Subhaanawlloohi wabihamdih
Artinya : "Maha Suci Allah dan Segala Puji Bagi-Nya"
C. 100 Istigfar

Astaghfirullahalazim
Artinya : “Aku mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung”
Baca dengan penuh cinta, santai, dan dinikmati.
D. 7X Ayat Terakhir Surat At Taubah ayat (128 & 129)


Artinya : "128. Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
129. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung".
E. 3X Baca Al Ikhlaash, Al Falaq, An Naas



Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". Al Ikhlaash
Kemudian baca Al Ikhlaash,
Al Falaq, An Naas masing-masing sebanyak 3 kali.
Ulangi dzikir ini dua kali sehari: pagi dan sore.
Buat yang berat hidupnya, ketahuilah, mungkin karena kurang zikir-zikir barangkali.
Dengan membiasakan membaca zikir, semoga hidup menjadi semakin enteng.
Buat yang rajin baca, ia bagaikan sedang mengumpulkan kekayaan, meniti jalan kemenangan, kesuksesan, kejayaan, dan kemuliaan.
Terus rutinkan, ya.
Lebih baik lagi jika Saudara mau mempelajari betul dzikir pagi, sore, serta zikir-zikir setelah shalat.
Pelajari dan amalkan. Asli.
Hidup insya Allah bakal enteng seenteng-entengnya.
Saya suka kasian sama yang buat makan aja susah.
Bayar kontrakan susah.
Bayar angsuran ini itu, susah.
Bayar sekolah/kuliah, cari kerja/jodoh, susah.
Saya juga suka kasian sama yang pengen usaha, keringetan cari modal.
Udah usaha, masih keringetan juga sebab kerap masalah muncul.
Kemudian peristiwa ini dibilang wajar. Padahal mah nggak wajar. Kenapa?
Sebab hidupnya sepi dari dzikir harian.
Melewati hari tanpa dzikir harian adalah seperti jalan di muka bumi nggak pake pakaian, dengan membawa beban berat di pundaknya.
Bismillaah dah. Coba niatin jajal dzikir ini, sekitar 3 hari dulu. Terus lanjut 7 hari, 14 hari, 40 hari, hingga pada akhirnya bisa 100 hari nggak pernah nggak baca. Baca terus.
Buat yang punya orang tua, keluarga yang sedang ada hajat, sedang susah, sedang butuh pertolongan Allah, kerjakan juga dzikir-dzikir ini.
Buat yang belum berjodoh, belum punya anak, belum kerja, nggak lulus-lulus kuliah, pengen S2, S3 … atau bahkan S5 atau S8, he he … ini mah enteng dah buat Allah.
Setiap habis mengerjakan zikir-zikir ini, tarik nafas sebentar.
Konek sedikit ke Allah.
Konsentrasi dengan menghela nafas.
Lalu berdoalah … Alaa bidzikrillaahi tath-mainnul quluub.
Ingatlah, dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.
Coba cari nih ayat ada di surat apa dan perhatikan betul ayatnya.
Dzikir tadi coba salin di kertas selembar. Bawa terus lembar tersebut sebagai pengingat bahwa ada dzikir harian yang minimal kudu dibaca.
Share artikel ini ke sebanyak-banyak teman via twitter, BBM, facebook, semua media dah.
Oh ya, ajarin orang akan hal ini. Ingatkan. Kalo perlu bikin kelompok kecil.
Cari kawan.
Yang saling mengingatkan dan sama-sama mengerjakan. Minta mereka juga cari downline.
Pake prinsip Ajak, Rawat, & Uswatun Hasanah. Prinsip ini mengajarkan untuk tidak hanya mengajak, tetapi juga ngingetin buat terus melakukan.
Bila hasilnya pengen lebih hasil lagi, coba liat-liat. Punya apa yang bisa disedekahin? Keluarin aja duluan untuk jadi pelengkap dzikir yang hebat. InsyaaAllah. Ok. Ok. Kebanyakan nih, he he. Segera aja disalin, ya.
Sebab nggak mungkin saya ngingetin terus. Salin di kertas. Fotokopi aja, bagiin ke orang-orang. Yang mau nyalin, terus mau motokopi dan bagiin lembar yang ditulisulangnya sendiri, kasih tau aja. Sekadar ngebahagiain saya bahwa amalan ini dijalanin.
Loh… Katanya udahan? Ini masih nulis aja? He he he. Ok. Pamit. Salam hormat. Salinnya dari awal, ya. Semua dzikir tadi ditulis ulang. Jangan ada yang dilewatin. Masih nongol, hehehe. Sebelum ditegor istri, he he he. Ok. Pamit beneran … Salam, @Yusuf_Mansur
Saat tiba pagi dan sore hari, yuk baca:
A. 100 shalawat
ALLAHUMMA SHALI ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMAD
WA ‘ALAA AALI SAYYIDINA SAYYIDINA MUHAMMAD
Artinya : "Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada penghulu kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga penghulu kami Nabi Muhammad"
B. 100 Tasbih

Subhaanawlloohi wabihamdih
Artinya : "Maha Suci Allah dan Segala Puji Bagi-Nya"
C. 100 Istigfar

Astaghfirullahalazim
Artinya : “Aku mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung”
Baca dengan penuh cinta, santai, dan dinikmati.
D. 7X Ayat Terakhir Surat At Taubah ayat (128 & 129)


Artinya : "128. Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
129. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung".
E. 3X Baca Al Ikhlaash, Al Falaq, An Naas



Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". Al Ikhlaash
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
dari kejahatan makhluk-Nya,
dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita
dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,
dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki". Al Falaq
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
Raja manusia
Sembahan manusia.
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
dari (golongan) jin dan manusia. An Naas
Kemudian baca Al Ikhlaash,
Al Falaq, An Naas masing-masing sebanyak 3 kali.
Ulangi dzikir ini dua kali sehari: pagi dan sore.
Buat yang berat hidupnya, ketahuilah, mungkin karena kurang zikir-zikir barangkali.
Dengan membiasakan membaca zikir, semoga hidup menjadi semakin enteng.
Buat yang rajin baca, ia bagaikan sedang mengumpulkan kekayaan, meniti jalan kemenangan, kesuksesan, kejayaan, dan kemuliaan.
Terus rutinkan, ya.
Lebih baik lagi jika Saudara mau mempelajari betul dzikir pagi, sore, serta zikir-zikir setelah shalat.
Pelajari dan amalkan. Asli.
Hidup insya Allah bakal enteng seenteng-entengnya.
Saya suka kasian sama yang buat makan aja susah.
Bayar kontrakan susah.
Bayar angsuran ini itu, susah.
Bayar sekolah/kuliah, cari kerja/jodoh, susah.
Saya juga suka kasian sama yang pengen usaha, keringetan cari modal.
Udah usaha, masih keringetan juga sebab kerap masalah muncul.
Kemudian peristiwa ini dibilang wajar. Padahal mah nggak wajar. Kenapa?
Sebab hidupnya sepi dari dzikir harian.
Melewati hari tanpa dzikir harian adalah seperti jalan di muka bumi nggak pake pakaian, dengan membawa beban berat di pundaknya.
Bismillaah dah. Coba niatin jajal dzikir ini, sekitar 3 hari dulu. Terus lanjut 7 hari, 14 hari, 40 hari, hingga pada akhirnya bisa 100 hari nggak pernah nggak baca. Baca terus.
Buat yang punya orang tua, keluarga yang sedang ada hajat, sedang susah, sedang butuh pertolongan Allah, kerjakan juga dzikir-dzikir ini.
Buat yang belum berjodoh, belum punya anak, belum kerja, nggak lulus-lulus kuliah, pengen S2, S3 … atau bahkan S5 atau S8, he he … ini mah enteng dah buat Allah.
Setiap habis mengerjakan zikir-zikir ini, tarik nafas sebentar.
Konek sedikit ke Allah.
Konsentrasi dengan menghela nafas.
Lalu berdoalah … Alaa bidzikrillaahi tath-mainnul quluub.
Ingatlah, dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.
Coba cari nih ayat ada di surat apa dan perhatikan betul ayatnya.
Dzikir tadi coba salin di kertas selembar. Bawa terus lembar tersebut sebagai pengingat bahwa ada dzikir harian yang minimal kudu dibaca.
Share artikel ini ke sebanyak-banyak teman via twitter, BBM, facebook, semua media dah.
Oh ya, ajarin orang akan hal ini. Ingatkan. Kalo perlu bikin kelompok kecil.
Cari kawan.
Yang saling mengingatkan dan sama-sama mengerjakan. Minta mereka juga cari downline.
Pake prinsip Ajak, Rawat, & Uswatun Hasanah. Prinsip ini mengajarkan untuk tidak hanya mengajak, tetapi juga ngingetin buat terus melakukan.
Bila hasilnya pengen lebih hasil lagi, coba liat-liat. Punya apa yang bisa disedekahin? Keluarin aja duluan untuk jadi pelengkap dzikir yang hebat. InsyaaAllah. Ok. Ok. Kebanyakan nih, he he. Segera aja disalin, ya.
Sebab nggak mungkin saya ngingetin terus. Salin di kertas. Fotokopi aja, bagiin ke orang-orang. Yang mau nyalin, terus mau motokopi dan bagiin lembar yang ditulisulangnya sendiri, kasih tau aja. Sekadar ngebahagiain saya bahwa amalan ini dijalanin.
Loh… Katanya udahan? Ini masih nulis aja? He he he. Ok. Pamit. Salam hormat. Salinnya dari awal, ya. Semua dzikir tadi ditulis ulang. Jangan ada yang dilewatin. Masih nongol, hehehe. Sebelum ditegor istri, he he he. Ok. Pamit beneran … Salam, @Yusuf_Mansur
Selasa, 29 Juli 2014
Inilah Kisah Wali Allah Saat Menentukan Arah Kiblat
Dulu Syeikh Nawawi al-Bantani (kira-kira masih berusia belasan tahun) pernah sholat di masjid Pekojan Jakarta Kota dekat kediaman Habib Utsman bin Yahya. Ketika usai sholat Syeikh Nawawi menghampiri dan berkata kepada Habib Utsman dengan nada lemah lembut dan penuh hormat (kebetulan Habib Utsman berada di dalam masjid):
"Wahai Habib yang saya hormati !
Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."
Jawab Habib : "Ya, ada apa anak muda?"
Syeikh Nawawi : "Begini Habib Masjid ini kurang ngiblat dan kurang nyerong ke sebalah kanan (ke arah Utara)".
Kata Habib Utsman: "Masid ini sudah saya ukur dengan alat kompas dan berdasarkan ilmu falak" (memang Habib Utsman adalah seorang pakar ilmu falak).
Kemudian, Syeikh Nawawi al-Bantani dengan sopannya menunjuk ke arah kiblat dan seketika itu juga ka'bah kelihatan dengan amat jelasnya di hadapan mereka berdua.
Menyaksikan itu, Habib Utsman bin Yahya terperanjat dan kemudian langsung menubruk dan ingin mencium tangan Syeikh Nawawi al-Bantani, namun Syeikh Nawawi menarik dan menolak tangannya untuk dicium tangani oleh Habib Utsman bin Yahya, dan
Syeikh Nawawi al-Bantani berkata: "Wahai Habib yang mulia ! Saya tidak pantas untuk dicium tangani oleh Habib, Karena, Habib adalah orang mulia dan turunan Rasulullah, sedangkan saya adalah orang kampung biasa".
Mendengar kata-kata Syeikh Nawawi al-Bantani itu, kemudian Habib Utsman bin Yahya langsung merangkul badannya Syeikh Nawawwi dan mereka saling berpelukan sambil menangis dengan bercucuran air mata.
Terus terang ketika menulis kisah ini, saya juga ikut menangis karena terharu,
Oleh :

"Wahai Habib yang saya hormati !
Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya."
Jawab Habib : "Ya, ada apa anak muda?"
Syeikh Nawawi : "Begini Habib Masjid ini kurang ngiblat dan kurang nyerong ke sebalah kanan (ke arah Utara)".
Kata Habib Utsman: "Masid ini sudah saya ukur dengan alat kompas dan berdasarkan ilmu falak" (memang Habib Utsman adalah seorang pakar ilmu falak).
Kemudian, Syeikh Nawawi al-Bantani dengan sopannya menunjuk ke arah kiblat dan seketika itu juga ka'bah kelihatan dengan amat jelasnya di hadapan mereka berdua.
Menyaksikan itu, Habib Utsman bin Yahya terperanjat dan kemudian langsung menubruk dan ingin mencium tangan Syeikh Nawawi al-Bantani, namun Syeikh Nawawi menarik dan menolak tangannya untuk dicium tangani oleh Habib Utsman bin Yahya, dan
Syeikh Nawawi al-Bantani berkata: "Wahai Habib yang mulia ! Saya tidak pantas untuk dicium tangani oleh Habib, Karena, Habib adalah orang mulia dan turunan Rasulullah, sedangkan saya adalah orang kampung biasa".
Mendengar kata-kata Syeikh Nawawi al-Bantani itu, kemudian Habib Utsman bin Yahya langsung merangkul badannya Syeikh Nawawwi dan mereka saling berpelukan sambil menangis dengan bercucuran air mata.
Terus terang ketika menulis kisah ini, saya juga ikut menangis karena terharu,
Oleh :

K.H. Thobary Syadzily
Rabu, 04 Juli 2012
Inilah Amalan - Amalan Baik di Malam Nisfu Sya'ban beserta Fadilahnya
Nisfu Syaban adalah malam ke lima belas di bulan sya'ban.
Sya’ban adalah salah satu bulan istimewa, bulan yang dihormati dalam agama Islam, selain Muharram, Dzulhijjah dan Rajab. Lebih utama lagi pada malam ke lima belas, yang dikenal dengan nama malam Nisfu Sya’ban.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih dari Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, bahwa pada malam ini “Allah menjenguk datang kepada semua makhlukNya di Malam Nishfu Sya‘ban, maka diampuni segala dosa makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban).Begitu juga hadits riwayat Aisyah r.a.
عن عائشة بنت أبي بكر قالت: «قام رسول الله من الليل يصلي، فأطال السجود حتى ظننت أنه قد قبض، فلما رأيت ذلك قمت حتى حركت إبهامه فتحرك فرجعت، فلما رفع إلي رأسه من السجود وفرغ من صلاته، قال: يا عائشة أظننت أن النبي قد خاس بك؟، قلت: لا والله يا رسول الله، ولكنني ظننت أنك قبضت لطول سجودك، فقال: أتدرين أي ليلة هذه؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال: هذه ليلة النصف من شعبان، إن الله عز وجل يطلع على عباده في ليلة النصف من شعبان، فيغفر للمستغفرين، ويرحم المسترحمين، ويؤخر أهل الحقد كما هم»
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata bahwa Rasulullah SAW bangun pada malam dan melakukan shalat serta memperlama sujud, sehingga aku menyangka beliau telah diambil. karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan selesai dari shalatnya, beliau berkata, “Wahai Asiyah, (atau Wahai Humaira’), apakah kamu menyangka bahwa Rasulullah tidak memberikan hakmu kepadamu?”Aku menjawab, “Tidak ya Rasulallah, namun Aku menyangka bahwa Anda telah dipanggil Allah karena sujud Anda lama sekali.” Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kamu malam apa ini?” Aku menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Ini adalah malam nisfu sya’ban (pertengahan bulan sya’ban). Dan Allah muncul kepada hamba-hamba-Nya di malam nisfu sya’ban dan mengampuni orang yang minta ampun, mengasihi orang yang minta dikasihi, namun menunda orang yang hasud sebagaimana perilaku mereka.” (HR Al-Baihaqi)
Begitulah kemurahan Allah swt yang diberikan kepada hambanya di malam Nisfu Sya’ban. Sehingga dalam kesempatan lain Aisyah meriwayatkan hadits lagi dengan banyaknya pengampunan itu semisal bulu kambing Bani Kalb
عن عائشة بنت أبي بكر قالت: «قال رسول الله : "إن الله ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا، فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب"
Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nisfu sya’ban dan mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu pada kambing Bani Kalb (salah satu kabilah yang punya banyak kambing). (HR At-Tabarani dan Ahmad)
Demikianlah hendaknya kesempatan ini tidak disia-siakan. Seorang muslim yang bijak tentunya akan memanfaatkan malam Nisfu Sya’ban sebaik-baiknya, dengan sebaik-baiknya memohon pengampunan dan melaksanakan amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Demikian hadits riwayat Ali bin Abi Thalib menegaskan
عن علي بن أبي طالب قال: «قال رسول الله : "إذا كان ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها فإن الله ينزل فيها إلى سماء الدنيا فيقول ألا من مستغفر فأغفر له ، ألا من مسترزق فأرزقه ألا من مبتلى فأعافيه ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر
Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: "Malam nisfu Sya'ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: "Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing." (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
Amalan Malam Nisfu Sya’ban
Berbagai amalan malam Nisfu Sya’ban dapat dimulai setelah sholat maghrib. Berpegang pada hadits Rasulullah saw, sebaiknya ibadah malam Nisfu Sya’ban ini dilakukan secara individual (tidak berjama’ah). Namun juga tidak ada pelarangan jika dilakukan secara berjama’ah. Dengan didahului shalat sunnah dua rakaat yang niatnya adalah
أصلى سنة نصف شعبان ركعتين لله تعالى
Artinya: Aku niat shalat sunat nisfu sya’ban 2 rakaat sebagai karena Allah Ta’ala.
Bilangan shalat sunnah Nisfu Sya’ban adalah 2 rakaat dengan 1 kali salam. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun. Sedangkan pada rakaat setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Ikhlas.
Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Ghazali memberikan petunjuk agar dalam setiap rekaatnya setelah membaca fatihah hendaknya membaca surat al-Ikhlas sebelas kali. Atau dapat juga shalat sepuluh rakaat disetiap rakaatnya membaca Fatihah dan membaca al-Ikhlas seratus kali. Shalat ini disebut juga shalat al-khair, hal ini berdasar pada apa yang dilakukan oleh para ulama terdahulu.
Setelah shalat sunnah dua rekaat biasanya dilanjutkan dengan membaca surat yasin tiga kali yang dan ditutup dengan do’a malam Nisyfu Sya’ban di bawah ini
اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَ لا يَمُنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ ياَ ذَا الطَّوْلِ وَ اْلاِنْعَامِ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَ اَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ . اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِى عِنْدَكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ شَقِيًّا اَوْ مَحْرُوْمًا اَوْ مَطْرُوْدًا اَوْ مُقْتَرًّا عَلَىَّ فِى الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ شَقَاوَتِي وَ حِرْمَانِي وَ طَرْدِي وَ اِقْتَارَ رِزْقِي وَ اَثْبِتْنِىْ عِنْدَكَ فِي اُمِّ اْلكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَ قَوْلُكَ اْلحَقُّ فِى كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ اُمُّ اْلكِتَابِ. اِلهِيْ بِالتَّجَلِّى اْلاَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ وَ يُبْرَمُ اِصْرِفْ عَنِّيْ مِنَ اْلبَلاَءِ مَا اَعْلَمُ وَ مَا لا اَعْلَمُ وَاَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ . اَمِيْنَ
Artinya:
Ya Allah, Dzat Pemilik anugrah, bukan penerima anugrah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau: Engkaulah penolong para pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi keamanan bagi yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah menulis aku di sisiMu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit rezeki, maka hapuskanlah, wahai Allah, dengan anugrahMu, dari Ummul Kitab akan celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezeki, dan tetapkanlah aku di sisimu, dalam Ummul Kitab, sebagai orang yang beruntung, luas rezeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sunguh Engkau telah berfirman dan firman-Mu pasti benar, di dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan dengan lisan nabi-Mu yang terutus: “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang dikehendakiNya dan di sisi Allah terdapat Ummul Kitab.” Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak di malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat dipisahkan (dijelaskan, dirinci) segala urusan yang ditetapkan dan yang dihapuskan, hapuskanlah dariku bencana, baik yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, demi RahmatMu wahai Tuhan Yang Maha Mengasihi. Semoga Allah melimpahkan solawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amin.
Redaktur: Ulil Hadrawy
INI ADALAH HADIST KEUTAMAAN NISFU SYA’BAN
Tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban ini, dimana kita dianjurkan untuk melakukan ibadah terutama untuk memohon ampun, memohon rezeki dan umur yang bermanfaat, terdapat beberapa hadis yang menurut sebagian ulama sahih. Diantaranya
Hadist pertama
Diriwayatkan dari Siti A’isyah ra berkata, :”“Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) .
Hadits Kedua
Diriwayatkan dari Siti Aisyah ra bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi’ sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis Ketiga
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)
Hadis Keempat
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).
Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban yang Insya Allah akan jatuh pada Senin tgl 26 Juli 2010 sore hingga subuh . Marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon ampunan dan berdzikir sebanyak-banyaknya kepada Allah. SWT
Peringatan Nisfu Sya’ban tidak hanya dilakukan di Indonesia saja. Al-Azhar sebagai yayasan pendidikan tertua di Mesir bahkan di seluruh dunia selalu memperingati malam yang sangat mulia ini. Hal ini karena diyakini pada malam tersebut Allah akan memberikan keputusan tentang nasib seseorang selama setahun ke depan. Keutamaan malam nisfu Sya’ban diterangkan secara jelas dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.
Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.
dikutip dari situs ASWAJA (ahlussunah Waljamaah) oleh admin
Sya’ban adalah salah satu bulan istimewa, bulan yang dihormati dalam agama Islam, selain Muharram, Dzulhijjah dan Rajab. Lebih utama lagi pada malam ke lima belas, yang dikenal dengan nama malam Nisfu Sya’ban.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih dari Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, bahwa pada malam ini “Allah menjenguk datang kepada semua makhlukNya di Malam Nishfu Sya‘ban, maka diampuni segala dosa makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban).Begitu juga hadits riwayat Aisyah r.a.
عن عائشة بنت أبي بكر قالت: «قام رسول الله من الليل يصلي، فأطال السجود حتى ظننت أنه قد قبض، فلما رأيت ذلك قمت حتى حركت إبهامه فتحرك فرجعت، فلما رفع إلي رأسه من السجود وفرغ من صلاته، قال: يا عائشة أظننت أن النبي قد خاس بك؟، قلت: لا والله يا رسول الله، ولكنني ظننت أنك قبضت لطول سجودك، فقال: أتدرين أي ليلة هذه؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال: هذه ليلة النصف من شعبان، إن الله عز وجل يطلع على عباده في ليلة النصف من شعبان، فيغفر للمستغفرين، ويرحم المسترحمين، ويؤخر أهل الحقد كما هم»
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata bahwa Rasulullah SAW bangun pada malam dan melakukan shalat serta memperlama sujud, sehingga aku menyangka beliau telah diambil. karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan selesai dari shalatnya, beliau berkata, “Wahai Asiyah, (atau Wahai Humaira’), apakah kamu menyangka bahwa Rasulullah tidak memberikan hakmu kepadamu?”Aku menjawab, “Tidak ya Rasulallah, namun Aku menyangka bahwa Anda telah dipanggil Allah karena sujud Anda lama sekali.” Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kamu malam apa ini?” Aku menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Ini adalah malam nisfu sya’ban (pertengahan bulan sya’ban). Dan Allah muncul kepada hamba-hamba-Nya di malam nisfu sya’ban dan mengampuni orang yang minta ampun, mengasihi orang yang minta dikasihi, namun menunda orang yang hasud sebagaimana perilaku mereka.” (HR Al-Baihaqi)
Begitulah kemurahan Allah swt yang diberikan kepada hambanya di malam Nisfu Sya’ban. Sehingga dalam kesempatan lain Aisyah meriwayatkan hadits lagi dengan banyaknya pengampunan itu semisal bulu kambing Bani Kalb
عن عائشة بنت أبي بكر قالت: «قال رسول الله : "إن الله ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا، فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب"
Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nisfu sya’ban dan mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu pada kambing Bani Kalb (salah satu kabilah yang punya banyak kambing). (HR At-Tabarani dan Ahmad)
Demikianlah hendaknya kesempatan ini tidak disia-siakan. Seorang muslim yang bijak tentunya akan memanfaatkan malam Nisfu Sya’ban sebaik-baiknya, dengan sebaik-baiknya memohon pengampunan dan melaksanakan amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Demikian hadits riwayat Ali bin Abi Thalib menegaskan
عن علي بن أبي طالب قال: «قال رسول الله : "إذا كان ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها فإن الله ينزل فيها إلى سماء الدنيا فيقول ألا من مستغفر فأغفر له ، ألا من مسترزق فأرزقه ألا من مبتلى فأعافيه ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر
Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: "Malam nisfu Sya'ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: "Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing." (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
Amalan Malam Nisfu Sya’ban
Berbagai amalan malam Nisfu Sya’ban dapat dimulai setelah sholat maghrib. Berpegang pada hadits Rasulullah saw, sebaiknya ibadah malam Nisfu Sya’ban ini dilakukan secara individual (tidak berjama’ah). Namun juga tidak ada pelarangan jika dilakukan secara berjama’ah. Dengan didahului shalat sunnah dua rakaat yang niatnya adalah
أصلى سنة نصف شعبان ركعتين لله تعالى
Artinya: Aku niat shalat sunat nisfu sya’ban 2 rakaat sebagai karena Allah Ta’ala.
Bilangan shalat sunnah Nisfu Sya’ban adalah 2 rakaat dengan 1 kali salam. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun. Sedangkan pada rakaat setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Ikhlas.
Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Ghazali memberikan petunjuk agar dalam setiap rekaatnya setelah membaca fatihah hendaknya membaca surat al-Ikhlas sebelas kali. Atau dapat juga shalat sepuluh rakaat disetiap rakaatnya membaca Fatihah dan membaca al-Ikhlas seratus kali. Shalat ini disebut juga shalat al-khair, hal ini berdasar pada apa yang dilakukan oleh para ulama terdahulu.
Setelah shalat sunnah dua rekaat biasanya dilanjutkan dengan membaca surat yasin tiga kali yang dan ditutup dengan do’a malam Nisyfu Sya’ban di bawah ini
اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَ لا يَمُنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ ياَ ذَا الطَّوْلِ وَ اْلاِنْعَامِ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَ اَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ . اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِى عِنْدَكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ شَقِيًّا اَوْ مَحْرُوْمًا اَوْ مَطْرُوْدًا اَوْ مُقْتَرًّا عَلَىَّ فِى الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ شَقَاوَتِي وَ حِرْمَانِي وَ طَرْدِي وَ اِقْتَارَ رِزْقِي وَ اَثْبِتْنِىْ عِنْدَكَ فِي اُمِّ اْلكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَ قَوْلُكَ اْلحَقُّ فِى كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ اُمُّ اْلكِتَابِ. اِلهِيْ بِالتَّجَلِّى اْلاَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ وَ يُبْرَمُ اِصْرِفْ عَنِّيْ مِنَ اْلبَلاَءِ مَا اَعْلَمُ وَ مَا لا اَعْلَمُ وَاَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ . اَمِيْنَ
Artinya:
Ya Allah, Dzat Pemilik anugrah, bukan penerima anugrah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau: Engkaulah penolong para pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi keamanan bagi yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah menulis aku di sisiMu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit rezeki, maka hapuskanlah, wahai Allah, dengan anugrahMu, dari Ummul Kitab akan celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezeki, dan tetapkanlah aku di sisimu, dalam Ummul Kitab, sebagai orang yang beruntung, luas rezeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sunguh Engkau telah berfirman dan firman-Mu pasti benar, di dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan dengan lisan nabi-Mu yang terutus: “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang dikehendakiNya dan di sisi Allah terdapat Ummul Kitab.” Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak di malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat dipisahkan (dijelaskan, dirinci) segala urusan yang ditetapkan dan yang dihapuskan, hapuskanlah dariku bencana, baik yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, demi RahmatMu wahai Tuhan Yang Maha Mengasihi. Semoga Allah melimpahkan solawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amin.
Redaktur: Ulil Hadrawy
INI ADALAH HADIST KEUTAMAAN NISFU SYA’BAN
Tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban ini, dimana kita dianjurkan untuk melakukan ibadah terutama untuk memohon ampun, memohon rezeki dan umur yang bermanfaat, terdapat beberapa hadis yang menurut sebagian ulama sahih. Diantaranya
Hadist pertama
Diriwayatkan dari Siti A’isyah ra berkata, :”“Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) .
Hadits Kedua
Diriwayatkan dari Siti Aisyah ra bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi’ sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis Ketiga
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)
Hadis Keempat
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).
Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban yang Insya Allah akan jatuh pada Senin tgl 26 Juli 2010 sore hingga subuh . Marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon ampunan dan berdzikir sebanyak-banyaknya kepada Allah. SWT
Peringatan Nisfu Sya’ban tidak hanya dilakukan di Indonesia saja. Al-Azhar sebagai yayasan pendidikan tertua di Mesir bahkan di seluruh dunia selalu memperingati malam yang sangat mulia ini. Hal ini karena diyakini pada malam tersebut Allah akan memberikan keputusan tentang nasib seseorang selama setahun ke depan. Keutamaan malam nisfu Sya’ban diterangkan secara jelas dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.
Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.
dikutip dari situs ASWAJA (ahlussunah Waljamaah) oleh admin
Kamis, 24 Mei 2012
Kisah : Tokoh Islam ( Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu 'anhu )
Abbas
bin Abdul Muththalib radhiallahu 'anhu
"Hai Nabi, katakanlah kepada
tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam
hatimu niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah
diambil darimu dan dia akan mengampuni kamu. Dan, Allah Maha Pemgampun lagi
Maha Penyayang". (Q.,s. al-Anfaal : 7)
Menurut beberapa orang ahli
tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abbas bin Abdul Muththalib,
Aqil bin Abdul Muththalib dan Naufal ibnu al-Harits.
Abbas bin Abdul
Muththalib radhiallahu 'anhu
Ia adalah paman Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan salah seorang yang paling akrab dihatinya dan
yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, "Abbas
adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan
menyakitiku."
Di zaman Jahiliah, ia mengurus
kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya
ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pemah
menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai'at al-Aqabah menghadapi kaum
Anshar dari Madinah. Menurut sejarah, ia dilahirkan tiga tahun sebelum
kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Mekkah. Ibunya,
Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang
mengenakan kelambu sutra pada Baitullah al-Haram.
Pada waktu Abbas masih anak-anak,
ia pemah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau puteranya itu ditemukan, ia akan
mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama antaranya, Abbas ditemukan,
maka iapun menepati nazamya itu
Istrinya terkenal dengan panggilan
Ummul Fadhal (ibu Si Fadhal) karena anak sulungnya bemama al-Fadhal. Wajahnya
tampan. Ia duduk dibelakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika
beliau menunaikan haji wada'-nya. Ia meninggal dunia di Syam
karena bencana penyakit amuas. Anak-anaknya yang lain sebagai berikut ;
yaitu anak kedua, Abdullah, seorang ahli agama yang mendapat doa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, meninggal di Thaif. Ketiga, Qutsam, wajahnya
mirip benar dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam . Ia pergi berjihad ke
negeri Khurasan dan meninggal dunia di Samarkand. Keempat, Ma'bad, mati syahid
di Afrika. Abdullah (bukan Abdullah yang pertama), orangnya baik, kaya,dan
murah hati meninggal dunia di Madinah. Kelima, Puterinya, Ummu Habibah,
tidak banyak dibicarakan oleh sejarah.
Para ahli sejarah berbeda
keterangan tentang Islamnya Abbas. Ada yang mengatakan, sesudah penaklukkan
Khaibar. Ada yang mengatakan, lama sebelum Perang Badar. Katamya, ia
memberitakan kegiatan kaum musyrikin kepada Nabi di Madinah, dan kaum muslimin
yang ada di Mekkah banyak mendapat dukungan dari beliau. Kabamya, ia pemah
menyatakan keinginannya untuk hijrah ke Madinah, tapi Rasulullah menyatakan, "Kau
lebih baik tinggal di Mekah ".
Keterangan kedua ini dikuatkan
oleh keterangan Abu Rafi', pembantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku rnenjadi pembantu di
rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk
ke dalam rumah tangganya. baik Abbas maupun Ummul Fadhal, keduanya sudah masuk
Islam. Akan tetapi, Abbas takut kaumnya mengetahui dan
terpecah-belah, lalu ia menyembunyikan keislamannya."
Ia selalu menemani Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam di Ka'bah. Ka'ab bin Malik mengutarakan,
"Kami (saya dan al-Barra' bin Ma'rur) mencari Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam. Kami tidak tahu dan tidak mengenal Rasulullah sebelumnya.
Kami bertemu dengan seorang penduduk kota Mekkah. Kami tanyakan di mana kami
bisa menemui Rasulullah. Ia balik bertanya, 'Apakah kalian berdua mengenalnya?'
Kami menjawab, 'Tidak!'. Ia lalu bertanya, 'Kalian mengenal Abbas bin
Abdul Muththalib, pamannya?'
Kami menjawab, 'Ya!' Memang kami
sudah mengenalnya karena ia sering datang ke negeri kami membawa dagangan.
Orang tadi lalu berkata, 'Kalau
kalian masuk ke Masjidil Haram, orang yang duduk di sebelah Abbas itulah orang
yang kalian cari!".
Kemudian, kami masuk ke
Masjidil Haram. Ternyata, kami menemukan Abbas duduk di sana dan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di sebelahnya".
Abbas radhiallahu 'anhu
mempunyai peran penting yang tidak bisa diabaikan dalam baiat al-Aqabah.
Ia orang pertama yang berpidato dalam majelis itu. Ia berkata
"Wahai kaum
Khazraj, (pada masa itu, suku al-Aus dan al-Khazraj dipanggil dengan al-Khazraj
saja) kalian seperti yang saya ketahui telah mengundang datang Muhammad.
Ketahuilah bahwa Muhammad itu orang yang paling mulia di tengah-tengah familinya.
Ia dibela oleh orang orang yang sepaham dan orang-orang yang tidak sepaham
dengan pikirannya demi memelihara nama baik keluarga. Muhammad sudah menolak
tawaran orang lain selain kalian. Kalau kalian memiliki kekuatan, ketabahan,
dan pengertian tentang ilmu peperangan, mempunyai kekuatan menghadapi
persekutuan dan permusuhan seluruh bangsa Arab, karena mereka akan menyerang
kalian dengan satu busur dan satu anak panah, maka camkanlah baik-baik
terlebih dahulu, rembukkanlah antara kalian dengan mufakat dan sepakat
bulat dalam majelis ini karena sebaik-baik bicara itu ialah yang
jujur."
Kata-kata itu menunjukkan
pengetahuannya yang luas dan pemikiran yang cerdas tentang berbagai persoalan.
Ia ingin mengenali hakikat kaum Anshar dan membangkitkan kesiapsiagaan mereka.
Ia lalu berkata lagi, "Cobalah kalian ceritakan kepadaku bagaimana
kalian berperang menghadapi musuh?".
Abdullah bin Amru bin Haram
bangkit memberikan jawaban, "Percayalah bahwa kami adalah ahli
perang. Kami memperoleh keahlian itu berkat kebiasaan dan latihan kami dan
berkat warisan nenek moyang kami. Kami lepaskan anak panah kami sampai
habis, lalu kami mainkan tombak kami sampai patah, kemudian kami menyerang
dengan pedang, berperang tanding hingga tewas atau menewaskan musuh kami".
Cerahlah wajah Abbas mendengarkan
keterangan mereka itu dan amanlah rasanya untuk menyerahkan keponakannya itu,
seorang yang paling dekat di hatinya. Seperti ada yang ia lupakan, ia berkata
lagi, "Kalian mengatakan ahli peperangan. Apakah kalian mempunyai baju
besi?".
"Ya, lengkap," jawab
mereka.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian membaiat mereka dan Abbas mengambil tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengukuhkan baiat itu.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam berhijrah ke Yatsrib sedangkan Abbas tinggal di Mekah,
mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin, dan mengirimkan
berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar. Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam, tahu bahwa Abbas dan keluarganya dipaksa keluar
berperang oleh Quraisy sedangkan mereka tidak berdaya mengelak. Rasulullah
bersabda,
"Aku tahu ada orang-orang dari Bani Hasyim dan lain-lain yang
terpaksa keluar. Mereka tidak mempunyai kepentingan untuk memerangi kami. Siapa
di antara kalian yang menjumpai mereka, orang-orang dari Bani Hasyim, janganlah
dibunuh; siapa yang menjumpai Abbas bin AbduI Muththalib, paman Nabi
Shallallâhu 'alaihi wasallam., janganlah di bunuh karena ia keluar
berperang karena terpaksa".
Keterangan Rasulullah Shallallâhu
'alaihi wasallam. itu tersebar luas di kalangan orang yang pergi ke Badar. Kaum
mukminin menerima baik perintahnya itu. Kecuali Abu Hudzaifah bin Utbah bin
Rabi'ah, yang berucap dengan lantang, "Kami membunuh bapak kami, anak-anak
kami, saudara-saudara dan keluarga kami, lalu kami akan membiarkan Abbas? Demi
Allah, kalau aku menjumpainya, aku akan memancungnya dengan pedangku ini!"
Kata-katanya itu terdengar oleh
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam., lalu beliau berkata kepada Umar ibnul
Khaththab, "Ya Aba Hafsah,ada juga orang yang mau menghantam wajah
paman Rasullullah dengan pedangnya!"
"Biarkanlah, ya
Rasulullah, aku penggal leher Abu Hudzaifah itu dengan pedangku ini. Demi
Allah, dia itu seorang munafik," ucap Umar.
Akan tetapi, Rasulullah tidak
membiarkan Umar bertindak membunuh kawan-kawanya yang bersalah. Beliau
membiarkan mereka bertobat dan menebus dosanya masing-amsing. Ternayta, Abu
hudzaifah sangat menyesali kata-katanya itu dan senantiasa mengulang-ulang
perkataanya, "Demi Allah, rasanya hatiku tidak aman atas kata-kata yang
pernah kaku yucapkan dahulu dan aku senantiasa dikejar-kejar rasa takut
olehnya, sebelum Allah memberikan tebusan kepadaku dengan syahadah!"
Ternyata, harapannya itu Allah penuhi, ia tewas sebagai syahid dalam Perang
Yamamah.
Pada suatu hari, Abbas pergi
berhijarah ke Medinah bersama Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda
pendapat tentang tarikh hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam.telah membemberikan sebidang tanah kepadanya
berdekatan dengan tempat kediamannya.
Di Madinah terjadi pertengkaran
antara seseorang dengan Abbas, yang berakar sejak zaman Jahiliah, di mana orang
itu memaki-maki ayah Abbas. Gangguan orang itu terhadap Abbas terjadi
berualng-ulang sehingga menyakitkan hatinya, lalu ia ditamparnya. Kabilah orang
itu tidak senang hati, mereka siap-siap akan menuntut balas. Mereka berkata,
"Demi Allah, kami akan menamparnya seperti ia menampar saudara
kami!"
Ancaman mereka itu terdengar oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam , lalu beliau mengumpulkan kaum
muslimin dan naik ke atas mimbar, seraya memanjatkan puja dan puji kepada Allah
Subhânahu wata'âla dan bersabda,
"Wahai para hadirin, tahukah kalian,
siapa orang yang paling mulia di sisi Allah Subhânahu wata'âla?"
"Engkau, ya Rasulullah!"
jawab hadirin.
"Tahukah kalian bahwa Abbas
itu dariku dan aku darinya?
Janganlah kalian mengumpat orang-orang yang sudah
mati, jangan sampai menyakiti kita yang masih hidup."
Kabilah orang itu datang
mengahadap Rasulullah seraya berkata, "Ya Rasulullah, kami mohon
perlindungan Allah dari kegusaranmu, maafkanlah dosa kami, ya Rasulullah."
Pernyataan Rasulullah Shallallâhu
'alaihi wasallam tersebut menguatkan keterangan Abu Majas radhiallâhu 'anhu.
tentang sabdanya, "Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa
yang menyakitinya sama dengan menyakitiku."
Pada suatu hari, Abbas datang
menghadap Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Dan bermohon dengan penuh
harap, "Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi
pejabat pemerintahan?"
Berdasarkan pengalaman, ia seorang
yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa
orang, namun Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tidak ingin mengangkat
pamannya menjadi kepala pemerintahan; ia tidak ingin pamannya dibebani tugas
pemerintahan. Ia menjawab harapan pamannya itu dengan manis dan penuh
pengertian, "Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik
daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan."
Ternyata Abbas menerima dengan
senang hati pendapat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam., tetapi malah Ali
bin Abi Thalib radhiallâhu 'anhu yang kurang puas. Ia lalu berkata kepada
Abbas, "Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat
menjadi pejabat pemungut sedekah!"
Sekali lagi Abbas menghadap
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam untuk meminta seperti yang dianjurkan
Ali bin Abi Thalib itu, lalu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda
kepadanya ,"Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi
cucian (kotoran) dosa orang."
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi
wasallam.seorang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau
mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah, bahkan ia
tidak diberi kesemopatan dan harapan mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi,
tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.
Untuk yang ketiga kalinya,
pamannya itu datang menghadapnya dan berharap dengan penuh kerendahan hati,
"Aku ini pamanmu, usiaku sudah lanjut, dan ajalku sudah hampir. Ajarilah
aku sesuatu yang kiranya berguna bagiku di sisi Allah!"
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi
wasallam. Menjawab, "Ya Abbas, engkau pamanku dan aku tidak berdaya
sedikitpun dalam masalah yang berkenaan dengan Allah, tetapi mohonlah selalu
kepada Tuhanmu ampunan dan kesehatan!"
Sesudah Rasulullah Shallallâhu
'alaihi wasallam.menuiakan risalah Alalh Subhânahu wata'âla dengan baik,
manyampaikan agamaNya yang lengkap kepada para pewarisnya, maka ia kembali ke
rahmatullah dengan tenang. Ternyata Abbas orang yang paling merasa kesepian
atas kepergiannya itu.
Abbas hidup terhormat di bawah
pemerintrahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian menyusul pemerintahan
Umar ibnul Khaththab radhiallâhu 'anhu..
Tiap kali Khalifah hendak ke masjid
ia selalu harus melewati rumah Abbas. Di atas rumahnya itu terdapat sebuah
pancuran air. Pada suatu hari, ketika Khalifah Umar pergi ke masjid dengan
pakaian rapi hendak menghadiri shalat jamaah, tiba-tiba pancuran air itu
menumpahkan airnya dan mengenai pakaian Umat. Ia kembali pulang untuk mengganti
pakaian dan memerintahkan supaya pancuran itu dibuka. Sesudah beliau selesai
shalat, datanglah Abbas seraya berkata, "Demi Allah, pancuran itu
diletakkan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.."
Khalifah Umar menjawab, "Aku
mohon kepadamu supaya engkau memasang kembali pancuran itu di tempat yang
diletakkan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan menaiki
pundakku."
Abbas menerima baik harapan Umar
untuk memperbaiki kesalahannya itu.
Abbas tidak marah, tidak mendendam di dalam hati, tetapi ia mengingatkan Umar bahwa yang meletakkan pancuran itu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Hati Umar yang terkenal keras dan kuat-kuat tiba-tiba bergetar ketakutan, bagaimana ia memerintahkan mencabut apa yang dipasang Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Ia rela menebus kesalahannya itu dengan menyuruh Abbas menaiki pundaknya untuk mengembalikan pancuran air itu ketempatnya semula. Setelah itu, ia memberikan ciuman cinta dan pengharagaan kepada paman Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam itu.
Abbas tidak marah, tidak mendendam di dalam hati, tetapi ia mengingatkan Umar bahwa yang meletakkan pancuran itu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Hati Umar yang terkenal keras dan kuat-kuat tiba-tiba bergetar ketakutan, bagaimana ia memerintahkan mencabut apa yang dipasang Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Ia rela menebus kesalahannya itu dengan menyuruh Abbas menaiki pundaknya untuk mengembalikan pancuran air itu ketempatnya semula. Setelah itu, ia memberikan ciuman cinta dan pengharagaan kepada paman Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam itu.
Masjid Nabawi di Madinah kian hari
kian menjadi kecil karena bilangan kaum muslimin dari hari ke hari makin
bertambah dengan pesatnya. Khalifah Umar berpikir akan memperluasnya dengna
membeli rumah-rumah yang ada di sekitar masjid itu. Semua bangunan yang ada
disekitarnya sudah dibeli kecuali rumah Abbas bin Abdullah Muththalib. Apa
mungkin ia menyumbangkan harganya kelak di Baitulmal ataukah ia akan menerima
harga ganti ruginya?
Khalifah Umar datang menemuinya
seraya berkata, "Ya Abal Fadhal, engkau lihat, masjid sudah sempit sekali
karena banyaknya orang shalat di dalamnya. Aku sudah memerintahkan untuk
membeli tanah dan bangunan yang ada disekitarnya untuk memperbesar bangunan
masjid, kecuali rumahmu dan kamar-kamar Ummahatul Mu'minin yang belum.
Kalau kamar-akmar Ummuhatul Mu'minin rasanya tidak mungkin kami membeli
dan membongkarnya, tapi rumahmu jual-lah kepada kami berapa pun yang engkau
kehendaki dari Baitulmal supaya bisa meluaskan bangunan masjid."
Abbas menjawab, "Aku tidak
mau."
Umar berkata; "Pilihlah satu
diantara tiga: engkau menjual berapa pun yang engkau kehendaki dari
Baitulmal, atau aku akan menggantinya dengan bangunan lain yang akan aku
bangunkan untukmu dari Baitulmal di daerah manapun di Madinah yang engkau
kehendaki, atau engkau berikan sebagai sedekah kepada muslimin untuk meluaskan
masjid mereka."
Abbas berkeras, "Aku tidak
mau terima semaunya."
Umar berharap, "Angkatlah seorang penengah antara kami berdua kalau engkau mau.'
Abbas menjawab, "Aku setuju mengangkat Ubai bin Ka'ab."
Umar berharap, "Angkatlah seorang penengah antara kami berdua kalau engkau mau.'
Abbas menjawab, "Aku setuju mengangkat Ubai bin Ka'ab."
Keduanya pergi menemui Ubai bin
Ka'ab, lalu kepadanya diceritakan segala sesuatunya dan dimintai pendapatnya.
Ubai berkata, "Aku mendengar
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda, "Allah Subhânahu
wata'âla pernah mewahyukan kepada Nabi Daud, 'Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah
tempat orang-orang menyebut nama-Ku di sana.' Nabi Daud lalu merencanakan
pembangunannya di Baitul Maqdis. Dalam perencanaan itu mengenai rumah seorang
Bani Israel. Nabi Daud menawarkan kepada orang itu untuk menjual rumahnya, tapi
ia menolak. Tiba-tiba terpikir dalam benak Nabi Daud untuk mengambilnya dengan
paksa. Allah Subhânahu wata'âla lalu mewahyukan kepadanya, 'Hai Daud, aku
menyuruhmu membangun untuk-Ku sebuah rumah tempat orang menyebut nama-Ku
pemaksaan itu bukan watak-Ku. Karena itu, sebagai sanksinya, kau tidak usah
membangunnya!' Nabi Daud menjawab, 'Ya Allah, aku lakukan pada anakku!' Allah
berfirman lagi, 'Siapa anakmu?""
Khafilah Umar tidak bisa lagi
menahan marahnya, lalu ia menyambar baju Ubai bin Ka'ab dan menggiringnya
ke masjid seraya berkata, "Aku mengharapkan dukunganmu, malah kau
menyudutkan aku. Kau harus membuktikan keteranganmu di hadapan kaum
muslimin!"
Ia membawanya ke tengah-tengah
halaqah yang diselenggarakan shahabat Rasulullah di masjid Nabawi, dimana
antara lain terdapat Abu Dzar radhiallâhu 'anhu.Umar lalu berkata kepada para
hadirin, "Saya mengharap dengan nama Allah, adakah diantara kalian yang
mendengarkan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.berbicara tentang Baitul
Maqdis, ketika Alalh memerintahkan Nabi Daud untuk mendirikan rumah-Nya tempat
orang menyebut-nyebut namaNya?"
Abu Dzar radhiallâhu 'anhu
menjawab' "Ya, saya mendengar!" Disambut oleh yang lain, "Ya,
saya juga mendengar!" Dari sudut sana ada pula yang menyambung, "Saya
juga mendengar!"
Khalifah Umar radhiallâhu 'anhu
lalu berkata kepada Abbas radhiallâhu 'anhu, "pergilah! Aku tidak akan
menuntutmu membongkar rumahmu."
Abbas radhiallâhu 'anhu berkata,
"Kalau demikian sikapmu maka aku menyatakan bahwa rumahku kusedekahkan
untuk kepentingan kaum muslimin. Silahkan perluas masjid mereka. Akan tetapi,
kalau kau akan mengambilnya dengan tekanan dan pemaksaan, aku tidak akan
mengalah."
Memang Khalifah Umar radhiallâhu
'anhu bertindak setengah memaksa karena proyek itu menyangkut kepentingan kaum
muslimin dan dianggap tidak bertentangan dengan hukum Allah. Akan tetapi,
apabila ada nash jelas maka tidak berlaku ijtihadnya. Ia harus tunduk dan
menerima baik syariat Allah dan RasulNya. Sesudah Abbas melihat ketundukan
Khalifah Umar kepada hukum dan perundang-undangan, ia tidak lagi mengandalkan
kekuasaannya selaku kepala pemerintahan atau akan merampas haknya yang
dijamin oleh undang-undang dan dilindungi oleh Islam, tetapi ia benar-benar
berjuang demi kesehjahteraan kaum muslimin, maka ia pun memutuskan untuk
menyerahkan rumahnya itu sebagai hibah dan sedekah untuk meluaskan masjid kaum
muslimin.
Demikian tokoh-tokoh model
"sekolah Rasulullah" dan "sekolah Al-Qur'anul Karim" radhiallahu
'anhum ajma'in. Mereka angkatan kaum muslimin yang pertama, yang telah
membawa panji Islam ke seluruh jagat raya ini, yang telah membangkitkan
peradaban umat manusia, yang mengajar dan mendidik manusia maju dan mengenali
peradaban antara agama kebenaran dan kebatilan.
Pada suatu hari dalam pemerintahan
Khalifah Umar, terjadilah paceklik hebat dan kemarau ganas. Orang-orang
berdatangan kepada Khalifah untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang
melanda daerahnya masing-masing. Umar menganjurkan kepada muslimin yang
berkemampuan supaya mengulurkan tangan membantu saudara-saudaranya yang ditimpa
kekurangan dan kelaparan itu. Kepada para penguasa di daerah diperintahkan
supaya mengirimkan kelebihan daerahnya ke pusat. Ka'ab masuk menemui Khalifah Umar
seraya mengutrarakan, "Ya Amirul Mukminin, biasanya Bani Israel kalau
menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan dengan kelompok para nabi
mereka."
Umar berakta, "Ini dia paman
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.dan saudara kandung ayahnya. Lagi pula,
ia pimpinan bani Hasyim."
Khalifah Umar pergi kepada Abbas
dan menceritakan kesulitan besar yang dialami umat akibat kemarau panjang dan
paceklik itu, kemudian ia naik mimbar bersama Abbas seraya berdoa, "Ya
Allah, kami menghadapkan diri kepadaMu bersama dengan paman Nabi kami dan
saudara kandung ayahnya, maka turunkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai
putus asa!"
Abbas lalu meneruskan, memulai
doanya dengan puja dan puji kepada Allah Subhânahu wata'âla, "Ya Allah,
Engkau yang mempunyai awan dan Engkau pula yang mempunyai air. Sebarkanlah
awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah semua tumbuh-tumbuhan
dan suburkanlah semua air susu".
Ya Allah, Engkau tidak mungkin
menurunkan bencana kecuali karena dosa dan Engkau tidak akan mengangkat bencana
kecuali karena tobat. Kini, umat ini sudah menghadapkan dirinya kepada-Mu maka
turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama
diri kami dan keluarga kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama makhluk-Mu
yang tidak bicara, atas nama hewan ternak kami. Ya Allah, hujanilah kami dengan
hujan keselamatan yang berdaya guna. Ya Allah, kami mengadukan semua bencana
orang yang menderita kelaparan, telanjang, ketakutan, dan semua orang yang
menderita kelemahan. Ya Allah selamatkan mereka dengan hujan-Mu sebelum mereka
berputus asa dan celaka. Sesungguhnya, tidak akan berputus asa dengan rahmat
karunia-Mu kecuali orang-orang yang kafir."
Ternyata doanya itu langsung
diterima dan disambut Allah Subhânahu wata'âla. Hujan lebat turun dan
tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Orang-orang bersyukur kepada Allah
Subhânahu wata'âla dan mengucapkan selamat kepada Abbas, "Selamat
kepadamu, wahai Saqil Haramain, yang mengurusi minuman orang di Mekah dan Madinah."
Abbas hidup terhormat, baik oleh
kaum muslimin maupun oleh para Khulafaur Rasyidin. Kalau ia berjalan dan
berpapasan dengan Umar atau Utsman yang sedang berkendaraan, keduanya turun
dari kendaraannya, seraya berkata, "Paman Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.!"
Sudah menjadi sunnatullah, setiap
permulaan ada penghabisannya, setiap perjalanan ada perhentiannya, demikian
pula dengan Abbas radhiallâhu 'anhu, perjalanan hidupnya terhenti dan kembali
ke rahmatullah menyusul keponakkannya Shallallâhu 'alaihi wasallam dan
rekan-rekannya yang lain, pada hari Jumat tanggal 12 Rajab 32 Hijrah, dalam
usia 82 tahun, dan dikebumikan di al-Baqi' di Madinah, rahimullah wa
radhiallahu'anhu.
Sebab Turunya Ayat
Dalam Perang Badar yang berkecamuk
antara kaum muslimin dan kaum musyrikin, Abbas berhasil ditawan oleh Abul Yusr,
Ka'ab bin Amru, yang menurut Ahli sejarah kedua tangannya kurus dan
perawakannya juga lemah, sedangkan Abbas seorang yang tinggi besar. Rasulullah
Shallallâhu 'alaihi wasallam bertanya keheranan, "Ya Abal Yusr, bagaimana
kau bisa menawan Abbas?"
"Ya Rasulullah, aku dibantu
oleh seorang yang belum pernah kulihat sebelum dan sesudah itu (lalu ia
mengutarakan ciri-ciri dan perawakan orang itu)," jawab Abul Yusr.
"Kau dibantu oleh seorang
malaikat yang pemurah," sabda Rasulullah.
Ketika Abbas jatuh sebagai
tawanan, pertanyaan pertama yang terlontar adalah tentang keadaan Muhammad
kepada yang menawannya, "Bagaimana keadaan Muhammad dalam peperangan
ini?"
"Allah memuliakan dan
menenangkannya," jawabnya.
"Segala sesuatu selain Allah rusak. Kini, apa maumu?" tanya Abbas
"Rasulullah melarang kami membunuhmu," jawabnya.
"Itu bukan kebaikannya yang pertama."
"Segala sesuatu selain Allah rusak. Kini, apa maumu?" tanya Abbas
"Rasulullah melarang kami membunuhmu," jawabnya.
"Itu bukan kebaikannya yang pertama."
Abbas diborgol dan dikumpulkan
bersama tawanan perang lainya. Kiranya, ikatannya terlalu keras sehingga ia
merintih kesakitan. Ternyata rintihan itu terdengar oleh Rasulullah Shallallâhu
'alaihi wasallam. Beliau gelisah dan tidak bisa memejamkan matanya. Berapa
orang shahabat yang melihatnya belum tidur, menegurnya, "Wahai Nabi Allah,
sudah jauh malam, engkau belum tidur?"
"Aku mendengar riuntihan
Abbas,"
jawab Nabi.
Orang itu lalu pergi melonggarkan
ikatannya, kemudian Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.bertanya lagi, "Mengapa
sekarang aku tidak mendengarkan rintihannya?"
"Aku longgarkan ikatannya, ya
Rasulullah," jawab shahabat
"Lakukanlah juga terhadap semua tawanan lainnya," perintah Nabi.
"Lakukanlah juga terhadap semua tawanan lainnya," perintah Nabi.
Pagi harinya, semua tawanan
dihadapkan kepada Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Akhirnya, sampai
giliran Abbas.
Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam
bersabda, "Ya Abbas, tebuslah dirimu dan keponakanmu aqil bin Abi
Thalib, Naufal bin al-Harits, dan teman karibmu Utbah bin Amru bin Jahdam
karena engkau seorang kaya."
"Ya Rasulullah, saya ini
seorang Muslim, tetapi saya dipaksa ikut berperang oleh mereka," ucap
Abbas.
"Allah saja yang Maha Tahu
dengan keislamanmu itu: kalau pengakuanmu itu benar, Allah akan mengganjarmu,
namun aku melihatmu dari segi lahirmu maka bayarlah tebusanmu itu."
'Aku tidak mempunyai uang, ya
Rasulullah."
"Mana uang yang kau simpan
pada Ummul Fadhal, isterimu, ketika kau hendak keluar ikut berperang,
lalu pesanmu kepadanya, 'Kalau aku tewas dalam peperangan, uang itu
dibagi-bagikan antara kau, Fadhal, Abdullah, Ubaidullah, dan Qatsam.'?" tanya Rasulullah.
"Dari mana kau tahu ini
padahal aku tidak pernah memberitahukan hal itu kepada siapa pun?" tanya
Abbas keheranan.
"Allah Subhânahu wata'âla
Yang memberitahukan rahasiamu itu," jawab Nabi.
"Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan engkau benar-benar rasul Allah, bahwa kau seorang yang jujur."
"Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan engkau benar-benar rasul Allah, bahwa kau seorang yang jujur."
Pada saat itu, turunlah firman
Allah Subhânahu wata'âla.
"Hai Nabi, katakanlah kepada
tawanan-tawanan yang ada di tanganmu:"Jika Allah mengetahui ada kebaikan
dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang
telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu". Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.,S. al-Anfal: 70)
Abbas berkomentar, "Allah
berkenan menepati janji-Nya kepadaku, memberikan kebaikan lebih dari apa yang
diambil: 20 uqiyah diganti dengan 20 orang budak. Kini, aku sedang
menantikan pengampun-Nya. Aku diberi kuasa mengurus air zamzam dan aku bisa
merasa bangga lebih dari itu, meskipun aku memiliki semua harta penduduk kota
Mekkah. Kini, aku sedang menantikan pengampunan-Nya."
Akan tetapi, darimana ia memiliki
harta bila membeli dua puluh orang budak dan tiap budak memiliki modal
edar yang diperdagangkan?
Ibnu Sa'ad dalam bukunya, ath-Thabaqat
al-kubra, menyebutkan bahwa al-Ala' bin al-Hadhrami mengirimkan kepada Nabi
Shallallâhu 'alaihi wasallam. Harta benda sebanyak 80.000. Belum pernah Nabi
menerima lebih dari itu. Kemudian Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam mengundang
kaum muslimin. Begitu mereka melihat timbunan harta itu, penuh sesaklah masjid
dengan orang-orang. Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam membagi-bagikan hartra
itu seolah-olah tanpa perhitungan dan pertimbangan, masing-masing diberikan
segenggam.
Abbas datang, lalu berkata kepada
Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam., "Ya Rasulullah, aku telah memberikan
tebusanku dan tebusan Aqil bin Abi Thalib dalam perang Badar. Aqil tidak punya
uang penggantinya. Berikan aku dari uang ini!"
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi
wasallam tertawa lebar sehingga terlihat gigi taringnya, lalu bersabda, "Harta
itu diambil seperlunya; yang lain dikembalikan!"
Ia lalu pergi dengan mengambil
seperlunya, seraya berucap, "Janji Allah kepadaku, yang satu sudah
ditepati dan yang lain aku belum tahu!"
Renungan
Abas bin Abdul Muththalib
radhiallâhu 'anhu, paman Rasululah Shallallâhu 'alaihi wasallam dan saudara
kandung ayahnya, termasuk salah seorang tokoh shahabat yang ikut mengibarkan
panji Islam dan menyebarkan dakwahnya.
Sepak terjangnya dicatat sejarah
dengan tinta emas dalam baiat al-Aqabah al-Kubra, ia bertindak sebagai seorang
penasihat dan perunding ahli, menyertai keponakannya dalam majelis itu,
membentangkan sikapnya dengan tepat, dan mengamati sikap kaum Anshar yang
hendak menerima kedatangannya ke Madinah dengan cermat.
Ia memberikan gambaran kepada
mereka akan bahaya dan resiko yang akan mereka hadapi sepanjang hidup
mereka jika menerima Muhammad Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.
Bangsa Arab tidak akan membiarkan Muhammad dan dakwahnya berkembang dengan
mulus kecuali kalau mereka terpaksa.
Pada akhir perundingan, sesudah ia
yakin bahwa kaum Anshar dari Yastrib itu terdiri atas para pahlawan yang
berbudi luhur yang bisa dipercaya dan menerima keponakannya, barulah ia bangkit
mempertemukan tangan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan tangan
wakil kaum Anshar itu sebagai tanda baiat disetujui dan janji setia dimulai,
disertai doa harap kepada Allah Subhanahu wata'ala mudah-mudahan
persekutuannya yang luhur akan melindungi agama-Nya dan Dia memberi taufiq dan
hidayah-Nya.
Ketika Nabi Shallallâhu 'alaihi
wasallam. Hijrah ke Yastrib, Abbas menyatakan hasratnya akan menyusul ke sana.
Akan tetapi, beliau mencegahnya dan menganjurkan supaya tinggal di Makkah saja
dulu supaya bisa mendukung semangat kaum mustadh'afin di Mekah yang belum bisa
hijrah meninggalkan Mekah.
Abbas patuh kepada perintah
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Itu. ia tinggal di Mekkah bersama
kelompok kaum muslimin yang belum sanggup pergi berhijrah, menyiapkan
kesempatan dan bekal mereka, menutup utang-utang mereka, mengamati gerak-gerik
kaum Quraisy supaya selalu diketahui Rasulullah Shallallâhu 'alaihi
wasallam.dan tidak bisa mengadakan serangan mendadak kepada mereka.
Pada permulaan Islam, Abbas banyak
melunasi utan kaum muslimin yang fakir misjkin. Pada zaman kita sekarang ini,
alangkah perlunya kita kepada seorang Abbas modern yang sudi menyelamatkan umat
agar tidak menjadi mangsa pengikut komunis dan kapitalis Barat, dan berdiri
tegak membendung invasi ideologi dan kristenisasi di kalangan kaum muslimin.
Ia menjadi tawanan dalam Perang
Badar, ia diborgol dan diringkus bersama tawanan yang lain. Ketika borgolnya
dilonggarkan, para tawanan yang lain pun harus dilonggarkan.
Tawanan lain harus, membayar uang
tebusan, Abbas pun harus membayar uang tebusan diri dan keluarganya. Itulah
Islam, tidak ada sistem famili atau keluarga, tidak mengutamakan kawan atau
kenalan. Tolak ukur keutamaan seseorang hanyalah karena ketakwaan dan amal
salehnya.
Pada suatu hari, Khalifah Umar
ibnul Khaththab yang terkenal sebagai penakluk kekaisaran Romawi dan Persia
itu, mencabut pancuran air dari rumah Abbas. Sesudah diberitahukan bahwa
pancuran itu dahulu dipasang oleh kedua tangan Rasulullah sendiri. Umar
menggigil ketakutan; apakah ia akan menyingkirkan apa yang diletakkan
Rasulullah? Beranikah ia membongkar apa yang dibangun Rasulullah? Umar resah
dan gelisah atas perbuatannya. Ia mengumpat dan mengutuk kelancangannya itu.
Barulah ia puas sesudah Abbas menerima baik sarannya untuk mengembalikan
pemasangan pancuran.
Tiba giliran Umar untuk memperluas
masjid Nabawi. Sebagai khalifah kaum muslimin, sebagai panglima Angkatan Perang
Islam, ia mempunyai kekuatan penuh untuk merampas dan mengganti rugi dari
Baitul mal, demi kepentingan kaum muslimin, selama tidak bertentangan dengan
hukum agama.
Sikap Umar untuk menggusur rumah
Abbas itu rupanya kurang berkenan di hatinya, meskipun ia akan diganti rugi. Ia
tidak mau menjual apa yang diberikan Rasulullah itu dan tidak sudi menerima
ganti ruginya. Ia berikan sebagai sedekah karena Allah, demi kepentingan kaum
muslimin, sesudah Umar bersikap lemah-lembut tidak disertai paksaan dan
kekuasaannya. (Senin, 16/7/2001=24/4/1422)
Langganan:
Postingan (Atom)
